Kalau tadi alur yang peke Bahasa Inggris, nihh aku kasih yang pake bahasa Indonesia, selamat membaca :D
Little Thing Called Love
Dengan mengangkat cerita remaja, film Crazy Little Thing Called Love (CLTCL) mampu menampilkan kisah klasik percintaan dengan sudut pandang yang berbeda dari film lainnya. Setelah sukses dengan film horror, tampaknya Thailand kini mulai dikenal dengan film komedi romantisnya, seperti Bangkok Traffic Love Story dan Hello Stranger. Namun, cerita dibalik Film Crazy Little Thing Called Love lebih menyentuh dan bermakna bagi penontonnya. Pasalnya, ada suatu kisah terpendam yang dihadirkan diujung film.
Sekilas, film ini seperti film remaja pada umumnya, yang menceritakan percintaan dua remaja yang dibubuhi pemain antagonis di dalamnya. Aktor Mario Maurer berperan sebagai Chon, laki-laki yang diidolakan oleh remaja wanita di sekolahnya. Sedangkan, Artis Cantik Pimchanok Lerwisetpibo memainkan peran Nam, gadis desa yang hitam dan kuno. Karakter masing-masing pemain dengan sangat sempurna diperankan oleh setiap tokoh. Ditambah lagi, pemain lain yang turut mewarnai cerita film sehingga tidak terasa hambar, seperti sahabat-sahabat Nam dan Guru Bahasa Inggris, Inn. Karakter yang diberikan sutradara sangat menempel dengan aktris dan aktor yang terlibat, sehingga cerita lebih nyata dan tak terkesan dibuat-buat.
Romansa lain yang juga menghidupkan film garapan sutradara Putthiphong Promsakha dan Wasin Pokpong ini adalah elemen komedi yang sangat terasa dibabak awal CLTCL. Sehingga dapat memancing perhatian penonton untuk terus menyaksikan film ini hingga cerita berakhir. Guru Inn, salah satu karakter yang mainkan oleh Sudarat Budtporm merupakan karakter yang sengaja di setting lucu dan menggelitik. Ditambah lagi, wajahnya yang cukup khas sehingga tidak bosan untuk dilihat. Tokoh lain juga membawa kesan lucu lewat adegan-adegan khusus yang diperankan dalam film.
Apa yang membuat film ini istimewa? Padahal ceritanya standar, berkisah tentang remaja wanita yang kuno, jatuh cinta dengan pangeran idaman disekolahnya. Karena cintanya, Nam merubah dirinya sehingga menjadi lebih cantik dan menarik. Namun, ceritanya tidak sesederhana kisah cinta monyet lainnya. Nam tidak dengan mudah mengetahui jika Chone juga mempunyai perasaan yang sama dengan dirinya. Lika-liku perjalannya mereka akhirnya terjawab setalah sembilan tahun mereka berpisah. Transformasi Nam dari seorang “buruk rupa” menjadi putri cantik dilakukannya agar bisa menarik perhatian Chone. Diluar itu semua, ada sahabt-sahabat Nam yang membantunya berubah, serta lawan mainnya yang mengganggu hubungan Nam dan Chone.
Baik Mario Maurer, maupun Pimchanok Lerwisetpibo, sangat tepat memerankan karakter yang ada dalam film. Secara fisik, Maurer memiliki wajah tampan yang sudah barang tentu diidolakan oleh banyak orang. Pimchanok dibantu dengan tata rias yang mampu menyamarkan wajah cantiknya. Aktingnya sebagai gadis yang lugu tidak dapat diragukan lagi. Mempesona dan menggelitik penonton.
Walaupun film ini merupakan film yang ditujukan untuk remaja, namun didalamnya sama sekali tidak menghadirkan unsur porno. Lewat adegan demi adegan, film yang digarap akhir 2010 ini mampu menggugah perhatian penonton, khususnya di scene yang menghadirkan kedua bintang utama ini. Bagian akhir, dimana terdapat scene yang memperlihatkan betapa perhatiannya Chone kepada Nam adalah scene terhebat dan mungkin tidak diduga oleh penonton. Seperti, bunga yang diberikan oleh Chone saat hari valentine adalah bunga yang rela ditanam sendiri olehnya. Ketertarikan Chone kepada Nam ternyata sudah muncul sejak Nam masih menjadi gadis yang biasa-biasa saja. Semuanya terlihat dalam scrapbook yang dibuat oleh Chone untuk Nam. Mungkin tidak ada yang bisa menduga jika sederet cerita ini menjadi akhir dari film ini. Wajar saja bila penonton kagum dengan adegan yang ditampilkan.
Sayangnya, kehebatan film ini tetap tidak mampu mengubah streotipe mengenai wanita yang cantik dan menarik adalah wanita yang sempurna. Seperti halnya Nam yang berubah untuk menjadi lebih cantik agar mampu menarik perhatian Chone. Dibalik itu, ada juga cerita persahabatan Nam yang mengalami keretakan di tengah karirnya yang mencuat. Kisah ini juga sudah tidak banyak diangkat dalam film remaja pada umumnya.
Pada akhirnya, keberhasilan menggait hati penontonya, mampu dibuktikan oleh Utthiphong Promsakha na Sakon Nakhon dan Wasin Pokpong selaku penulis cerita CLTCL. Semuanya juga tak lepas dari chemisty yang sukses dibangun oleh para tokoh utamanya. Sehingga kesederhanaan ide cerita mampu ditayangkan dalam angle yang berbeda. Tidak hanya cerita cinta monyet remaja, tetapi ada secarik pelajaran berharga yang mampu kita petik dalam setiap adegan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar